Jejak sepatuku masih ada debu kota meminggir
Diasak embun desa termanggu di halaman
Seratus langkahku menghampiri anak tangga usang
Rumah papan atap rumbia menyentak perantau
Sepi di beranda…
Kuatur langkahku sebak
Syahdu dan gementar
Ada tangisan di wajah
Menyentuh kenangan di gerbang pintu
Ayah selalu berkisah
Kuakan pintu itu ada nasihat
Masih basah keringat
Memantul warna senja kepulanganmu
Tanpa sungutan
Syahdu dan gementar
Ada tangisan di wajah
Menyentuh kenangan di gerbang pintu
Ayah selalu berkisah
Kuakan pintu itu ada nasihat
Masih basah keringat
Memantul warna senja kepulanganmu
Tanpa sungutan
Cepat benar masa berlalu
Waktu ayah menyambutku pulang
Usiamu diterjah putih kelabu
Ada perit getir di wajahmu
Kedut yang membungkus wajahmu
Mengasak kudrat ke telapak kesat tanganmu
Sering dahulu memeluk kami sebelum ke sekolah
Menghantar seribu luka di tumitmu
Dulunya menguak rahsia jalan
Aku menyambut memapah tubuh gementarmu
Kulihat dengan genang air mata
Sejuk dahiku kau kucup penuh restu
Waktu ayah menyambutku pulang
Usiamu diterjah putih kelabu
Ada perit getir di wajahmu
Kedut yang membungkus wajahmu
Mengasak kudrat ke telapak kesat tanganmu
Sering dahulu memeluk kami sebelum ke sekolah
Menghantar seribu luka di tumitmu
Dulunya menguak rahsia jalan
Aku menyambut memapah tubuh gementarmu
Kulihat dengan genang air mata
Sejuk dahiku kau kucup penuh restu
Sepohon pokok rendang tua
Ayah duduk memerhatikanku yang sudah dewasa
Membawaku ke sisi dan bercerita lagi kepadaku
Tentang kerinduan yang pernah ada dalam rumah
Tentang kasihan ibu kepada kami
Kata ayah “ibumu selalu sabar
Memahat senyuman pada dedaun padi
Yang menjadi alas kehidupan”
Ayah duduk memerhatikanku yang sudah dewasa
Membawaku ke sisi dan bercerita lagi kepadaku
Tentang kerinduan yang pernah ada dalam rumah
Tentang kasihan ibu kepada kami
Kata ayah “ibumu selalu sabar
Memahat senyuman pada dedaun padi
Yang menjadi alas kehidupan”






